Topik

Berita

Salju Abadi di Puncak Jayawijaya yang Tidak Lagi Abadi

Generic placeholder image
Syifa Mawadah

06 Apr 2021

Bukan lagi hanya isu semata kini Pemanasan Global sudah terlihat nyata dampaknya. Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisik (BMKG) Dwikorita Karnawati memprediksi tutupan es di Puncak Jaya, Papua, akan sepenuhnya hilang di tahun 2025. Menurutnya prediksi itu sebagai dampak pada Pemanasan Global atau yang lebih dikenal dengan Global Warming. 

Global Warming adalah kondisi dimana Meningkatnya suhu rata-rata di permukaan. Hal tersebut disebabkan karena  karbon dioksida (CO2) yang disebabkan oleh aktivitas manusia, salah satunya polutan udara banyaknya pembangunan rumah kaca berkumpul di atmosfer bumi yang kemudian menyerap sinar matahari dan radiasi matahari yang memantul dari permukaan bumi. Itulah yang menyebabkan suhu dibumi semakin panas.

"Sudah akan hilang, jadi tentunya kalau Puncak Jaya Wijaya sudah tidak ada esnya, artinya pemanasan global benar-benar telah terjadi serius, dan siap-siap cuaca ekstrem itu akan menjadi hal yang normal," kata Dwikorita dalam pidato kunci peluncuran Dokumen Kebijakan Pembangunan Berketahanan Iklim yang dilakukan Bappenas di Jakarta, Kamis (1/4/2021) dilansir dari Antara.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan tim BMKG di Puncak Jaya, pada Juni 2010 ketebalan es di sana mencapai 31,49 meter. Tebal es berkurang sekitar 526 meter dari 2010 sampai dengan 2015, dengan rata-rata sekitar 1,05 meter per tahun. Namun diketahui dari penelitian berikutnya tebal es menjadi berkurang sekitar 5,7 meter dari November 2015 sampai dengan November 2016. Saat itu merupakan tahun dengan El Nino kuat. Pada Februari 2021, susut es di Puncak Jaya telah mencapai 23,46 meter. Sehingga BMKG memprediksi tutupan es di sana akan hilang di 2025.

BMKG  menjelaskan tren emisi gas rumah kaca (GRK) di Indonesia berdasarkan data 1981 sampai dengan 2020 terlihat fluktuatif meningkat.

Konsentrasi karbon dioksida (CO2) masih di bawah rerata global, namun beberapa grafik yang lebih tinggi dari rata-rata global sangat terkait dengan kejadian kebakaran hutan dan lahan yang dipicu oleh iklim ekstrem.

BMKG juga menganalisis tren temperatur di Indonesia dan menemukan kenaikan suhu udara masih di bawah anomali suhu global, namun keduanya mengalami kenaikan cukup signifikan mulai dari tahun 1970-an.

Menurut Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisik (BMKG) tahun 2020 merupakan tahun terpanas kedua setelah tahun 2016 

Perubahan iklim global berdampak pada temperatur di Indonesia. Ilustrasi di pulau-pulau utama menunjukkan temperatur yang terus naik hingga akhir abad 21.  jika emisi GRK dapat diminimalkan maka kurva kenaikan temperatur akan melandai mendekati tahun 2100. Kenaikan temperatur akan lebih tinggi bila emisi gas rumah kaca tidak dikendalikan, sehingga setiap wilayah di Indonesia akan mengalami kenaikan temperatur signifikan di akhir abad.

Selain dampak lingkungan, kepunahan salju juga diratapi sejumlah suku Papua yang meyakini bentangan es tersebut sebagai lokasi sakral. Menurut suku Papua Pegunungan dan lembah-lembah adalah kaki dan tangan dewa mereka, dan salju adalah kepalanya. Jadi, kepala dewa mereka akan segera menghilang.

Sama hal seperti manusia alam juga butuh dicintai. Masih ada waktu untuk menyelamatkannya agar tidak  menjadi kenangan belaka. Demi anak dan cucu kita.

#Jayawijaya # Global Warming # Papua
Generic placeholder image

DITULIS OLEH

Syifa Mawadah

Content Writer